A. PENGERTIAN,
TUJUAN DAN KEDUDUKAN AL-FANA, AL-BAQA DAN AL-ITTIHAD
Fana’ menurut bahasa ialah
hilang, lenyap, atau musnah. Dan menurut istilah ialah hilangnya kesadaran
tentang yang selain Allah. Baqa’ menurut bahasa ialah kekal atau hidup terus.
Dan menurut istilah ialah tetapnya kesadaran tentang Allah. Tujuan fana dan
baqa yaitu mencapai persatuan secara rohaniah dan batiniah dengan Tuhan,
sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya.
Ittihad menurut bahasa ialah
persatuan, penyatuan, atau menjadi satu. Dan menurut istilah ialah persatuan
manusia dengan Tuhan setelah manusia fana’ dan baqa’. Tokohnya Abu Yazid
al-Busthami (814 - 875 M). Bentuk persatuan dalam ittihat ada 3 yaitu : persatuan
dalam kekuatan hasilnya tawakal, persatuan dalam kehendak hasilnya taqwa, dan
persatuan dalam pengetahuan hasilnya taukid.
Dari segi bahasa al-fana berarti
hilangnya wujud sesuatu. Fana berbeda dengan al-fasad (rusak). Fana artinya
tidak tampak sesuatu, sedangkan rusak adalah berubahnya sesuatu kepada sesuatu
yang lain. Dalam hubungan ini Ibn Sina ketika membedakan antara benda-benda
yang bersifat samawiyah dan benda –benda yang bersifat alam, mengatakan bahwa
keberadaan benda alam itu atas dasar permulaany, bukan atas dasar perubahan
bentuk yang satu kepada bentuk yang lainnya, dan hilangnya benda alam itu dengan
cara fana, bukan cara rusak.
Adapun artinya fana menurut
kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau
dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Menurut pendapat lain, fana
berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat yang tercela.
Dalam pada itu Mustafa Zahri
mengatakan bahwa yang dimaksud fana adalah lenyapnya indrawi atau kebasyariahan,
yakin sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat dan hawa nafsu. Orang
yang telah diliputi hakikat ketuhanan, sehingga tiada lagi melihat daripada
alam baharu, alam rupa dan alam wujud ini, maka dikatakan ia telah fana dari
alam cipta atau dari alam makhluk. Selain itu fana juga dapat berarti hilangnya
sifat-sifat buruk (maksiat) lahir batin.
Sebagai akibat dari fana adalah
baqa. Secara harfiah baqa berarti kekal, sedang menurut yang dimaksud para
sufi, baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat Tuhan dalam
diri manusia. Karena lenyapnya (fana) sifat-sifat basyariah, maka yang kekal
adalah sifat-sifat ilahiah. Dalam istilah tasawuf, fana dan baqa datang
beriringan, sebagai mana dinyatakan oleh para ahli tasawuf :
“Apabila tampaklah nur kebaqaan,
maka fanalah yang tiada, dan baqa lah yang kekal”
Tasawuf itu ialah mereka fana
dari dirinya dan baqa dengan tuhannya, karena kehadiran hati mereka bersama
Allah.
Dengan demikian, dapatlah
dipahami bahwa yang dimaksud dengan fana adalah lenyapnya sifat-sifat
basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat dari diri
manusia. Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat ketuhanan, akhlak yang
terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat. Untuk
mencapai baqa ini perlu dilakukan usaha-usaha seperti bertaubat, berzikir,
beribadah, dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.
Selanjutnya fana yang dicari
oleh orang sufi adalah penghancuran diri (al-fana ‘an al-nafs), yaitu hancurnya
perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia. Menurut
al-Qusyairi, fana yang dimaksud adalah: “Fana seseorang dari dirinya dan dari
makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang
makhluk lain itu, sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula makhluk lain
ada, tetapi ia tak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya”.
Kalau seorang sufi telah
mencapai al-fana al-nafs, yaitu kalau wujud jasmaniah tak ada lagi (dalam arti
tak disadarinya lagi), maka yang akan tinggal ialah wujud rohaniah. Menurut Harun
Nasution, kelihatannya persatuan dengan Tuhan ini terjadilangsung setelah
tercapainnya al-fana al-nafs. Tak ubahnya dengan fana yang terjadi ketika
hilangnya kejahilan, maksiat dan kelakuan buruk diatas. Dengan hancurnya
hal-hal ini yang langsung tinggal (baqa) ialah pengetahuan, takwa dan kelakuan
baik.
Berdasarkan uraian tersebut
dapat diketahui bahwa yang dituju dengan fana dan baqa ini adalah mencapai
persatuan secara rohaniah dan batiniah dengan Tuhan, sehingga yang didasari
hanya Tuhan dalam dirinya.
Adapun kedudukannya adalah
merupakan hal, karena hal yang demikian tidak terjadi terus-menerusdan juga
karena dilimpahkan oleh Tuhan. Fana merupakan keadaan dimana seorang hanya
menyadari kehadiran tuhan dalam dirinya, dan kelihatan lebih merupakan alat
jembatan atau maqam menuju ittihad (penyatuan rohani dengan tuhan).
Berbicara fana dan baqa ini erat
hubungannya dengan al-ittihad, yakni penyatuan batin atau rohaniah dengan
Tuhan, karena tujuan dari fana dan baqa itu sendiri adalah ittihad itu. Hal yang
demikian sejalan dengan pendapat Mustafa Zahri yang mengatakan bahwa fana dan
baqa tidak dapat dipisahkan dengan pembicaraan paham ittihad. Dalam ajaran
itihad sebagai salah satu metode tasawuf sebagai dikatakan oleh al-Badawi, yang
dilihat hanya satu wujud sungguhpun sebenar-benarnya yang ada dua wujud yang
berpisah dari yang lain karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu
wujud, maka dalam ittihad ini bisa terjadi pertukaran peranan antara yang
mencintai (manusia) dengan yang dicintai (tuhan) ataau tegasnya antara sufi dan
Tuhan.
Dalam situasi
ittihad yang demikian itu, seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan
Tuhan, suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi
satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu dengan
kata-kata: “Hai Aku”.
Dengan demikian
jika seorang sufi mengatakan misalnya “maha suci aku”, maka yang dimaksud aku
disitu bukanlah sufi sendiri, tetapi sufi yang telah bersatu batin dan
rohaninya dengan Tuhan, melalui fana dan baqa.
B. TOKOH
YANG MENGEMBANGKAN FANA
Dalam sejarah tasawuf, Abu Yazid
Al-Bustami disebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan faham fana dan
baqa. Nama kecinya adalah Thaifur. Nama beliau sangat istimewa dalam hati kaum
sufi seluruhnya.Ketika Abu Yazid telah fana dan mencapai baqa maka dari
mulutnya keluarlah kata-kata yang ganjil, yang jika tidak hati-hati memahami
akan menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengaku dirinya sebagai tuhan
padahal sesungguhnya ia tetap manuisia
biasa, yaitu manusia yang mengalami pengalaman bathin bersatu dengan
tuhan. Diantara ucapan ganjilnya ialah: “tisdak ada tuhan melainkan saya.
Sembahlah saya, amat sucilah saya, alngkah besarnya kuasaku.”Selanjutnya Abu
Yazid Mengatakan “Tidak ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku, Maha Suci
Aku, Maha Besar Aku.”
Selanjutnya
diceritakan bahwa: seseorang lewat dirumah Abu yazid dan mengetuk pintu. Abu
Yazid bertanya:” siapa yang engkau cari?” Jawabnya:”Abu Yazid.” Lalu Abu Yazid
mengatakan: “pergilah”. Dirumah i ni tidak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa
dan Maha Tinggi.”Ucapan yang keluar dari mulut abu yazid itu, bukanlah
kata-katanya sendiri tetapi kata-kata itu diucapkannya melalui diri tuhan dalam
Ittihad yang dicapainya dengan tuhan. Dengan demikian sebenarnya Abu Yazid
tidak mengaku dirinya sebagai tuhan.
C. FANA
DAN BAQA DAN ITTIHAD DALAM PANDANGAN AL-QURAN
Fana dan Baqa merupakan jalan
menuju Tuhan, hal ini sejalan dengan firman Allah surat Al-kahfi ayat 10 yang
berbunyi:
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”( Q. S. Al-Kahfi, 18: 110).
Paham ittihad
ini juga dapat dipahami dari keadaan ketika Nabi Musa ingin melihat Allah. Musa
berkata: “Ya Tuhan, bagai mana supaya aku sampai kepada-Mu?” Tuhan berfirman:
Tinggalah dirimu (lenyapkanlah dirimu) baru kamu kemari (bersatu).
Ayat tersebut
memberi petunjuk bahwa Allah swt. telah memberi peluang kepada manusia untuk
bersatu dengan Tuhan secara rohaniyah atau bathiniyah, yang caranya antara lain
dengan beramal shaleh, dan beribadat semata-mata karena Allah, menghilangkan
sifat-sifat dan akhlak buruk (Fana), meninggalkan dosa dan maksiat, dan
kemudian menghias diri dengan sifat-sifat Allah, yang kemudian ini tercakup dalam
konsep Fana dan Baqa, hal ini juga dapat dipahami dari isyarat ayat di bawah
ini:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal
Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q.S. Al-Rahman: 26-27).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar